Tokoh

Cut Nyak Dhien Dalam Sejarah Indonesia

Cut Nyak Dhien Dalam Sejarah Indonesia

Cut Nyak Dhien Dalam Sejarah Indonesia

Kisah perjuangan wanita di Indonesia memang sudah cukup terkenal. Tak terkecuali perjuangan melawan penjajahan Belanda yang dilakukan oleh wanita perkasa bernama Cut Nyak Dhien. Wanita ini merupakan putri Aceh yang ikut berjuang pada masa perang Aceh yang mulai meletus pada tahun 1873. Cut Nyak Dhien dilahirkan di tengah-tengah keluarga bangsawan di Aceh Besar pada tahun 1848. Cut Nyak Dhien memiliki darah bangsawan dari garis keturuanan ayahnya yang merupakan seorang Uleebalang VI Mukim.

sponsor: jasa google adwords.

Mengenang kisah perjalanan hidup Cut Nyak Dhien dalam sejarah Indonesia memang penuh dengan perjuangan yang dilakukannya dengan penuh kerja keras dan usaha saat melakukan perlawanan terhadap Belanda. Di balik kerasnya usaha yang cukup bernyali yang dilakukan selama berjuang, ternyata Cut Nyak Dhien kecil merupakan seorang wanita yang cantik yang memperoleh pendidikan agama dan pendidikan rumah tangga yang cukup baik. Cut Nyak Dhien menikah dengan usia yang masih cukup terbilang muda dan belia pada tahun 1862 dengan seorang pria yang bernama Teuku Ibrahim Lamnga. Usianya waktu itu masih 12 tahun.

Ketika Perang Aceh mulai meluas dan berkecamuk tahun 1873, Cut Nyak Dien memimpin perang di garis depan, ikut melawan pasukan Belanda yang mempunyai persenjataan lebih lengkap. Karena terdesak pasukan Cut Nyak Dhien memutuskan untuk mengungsi ke daerah yang lebih terpencil. Dalam pertempuran di daerah Sela Glee Tarun, suami dari Cut Nyak Dhien, Teuku Ibrahim meninggal dunia di medan perang pada tanggal 29 Juni 1878. Sepeninggal suaminya, Cut Nyak Dhien mengalami rasa duka yang begitu mendalam. Meskipun kesedihan tetap berjalan, Cut Nyak Dien masih memiliki tekad melanjutkan perjuangan terhadap Belanda dengan semangat berapi-api. Kebetulan saat upacara penguburan suaminya, ia bertemu dengan Teuku Umar yang kemudian menjadi suami sekaligus rekan perjuangan.

Teuku Umar juga merupakan salah satu tokoh pejuang utama Aceh. Teuku Umar melamar Cut Nyak Dhien, meskipun pada awalnya ditolak oleh Cut Nyak Dhien. Namun, karena Teuku Umar mempersilakannya untuk ikut bertempur dalam medan perang, Cut Nyak Dien akhirnya menerimanya dan menikah lagi dengan Teuku Umar pada tahun 1880.

Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar saling bekerja sama dan berusaha membangun kembali kekuatan dalam menghancurkan markas Belanda di sejumlah tempat. Perang kemudian dilanjutkan secara gerilya. Suatu ketika Teuku Umar memiliki siasat untuk mendekati pihak Belanda dan menyerahkan diri. Ini merupakan siasat yang dilakukan untuk mengelabuhi Belanda, meskipun di awalnya memang sangat senang karena musuh yang berbahaya mau membantu mereka. Pihak Belanda kemudian diberikan gelar Teuku Umar Johan Pahlawan dan memberikan kekuasaan penuh menjadi komandan unit pasukan Belanda. Teuku Umar merahasiakan rencana untuk menipu Belanda, dan menyebabkannya dituduh sebagai pengkhianat oleh orang Aceh.

Akhirnya, Teuku Umar yang mengkhianati Belanda ketahuan juga, dan kemudian melancarkan operasi besar-besaran untuk menangkap baik Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar. Di akhir perjuangan pasangan ini, Teuku Umar akhirnya meninggal dunia dengan ditembak pada saat melakukan penyerangannya di Meulaboh. Cut Nyak Dhien kemudian berjuang melawan Belanda di daerah pedalaman Meulaboh bersama pasukannya yang jumlahna kecil. Pasukan Cut Nyak Dhien terus bertempur, sampai menemui kehancuran 1901 karena tentara Belanda sudah sangat mengenali medan perang di Aceh. Dari segi fisik, Cut Nyak Dhien telah berusia semakin tua, sehingga kesehatannya semakin menurun dan ditambah lagi kesulitan memperoleh makanan. Akhir perlawanan wanita pejuang Aceh ini dihentikan oleh Belanda dengan proses penangkapannya untuk di bawa ke Banda Aceh. Cut Nyak Dhien kemudian dibuang ke pulau Jawa, yaitu di daerah Sumedang, Jawa Barat sebagai tahanan politik. Wanita perkasa dari Aceh ini begitu dihormati dan dikagumi masyarakat Sumedang karena seorang hafidz Alquran, dan turut mensyiarkan Islam di tanah bekas kerajaan Sumedang Larang ini.

0
0%
like
0
0%
love
2
100%
haha
0
0%
wow
0
0%
sad
0
0%
angry

Facebook

Sponsor

Social Media

To Top